CNN Indonesia | Senin, 16/03/2020 12:27 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,34 miliar secara bulanan pada Februari 2020 di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Realisasi itu lebih baik dari Januari 2020 yang defisit US$640 juta dan Februari 2019 yang surplus US$329,9 juta.

Begitu pula secara tahun berjalan, surplus perdagangan mencapai US$1,7 miliar pada Januari-Februari 2020. Realisasi ini juga lebih tinggi dari Januari-Februari 2019 senilai US$730 juta.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$13,94 miliar atau tumbuh 2,24 persen dari US$13,41 miliar pada Januari 2020. Sementara nilai impor hanya mencapai US$11,6 miliar atau anjlok 18,69 persen dari US$14,28 miliar pada bulan sebelumnya.

“Perkembangan perdagangan dipengaruhi oleh beberapa komoditas yang naik, seperti coklat dan emas. Sementara penurunan harga komoditas terjadi pada minyak kernel, minyak sawit, batu bara, seng, nikel, aluminium, dan perak,” ucap Yunita, Senin (16/3).

“Perkembangan perdagangan dipengaruhi oleh beberapa komoditas yang naik, seperti coklat dan emas. Sementara penurunan harga komoditas terjadi pada minyak kernel, minyak sawit, batu bara, seng, nikel, aluminium, dan perak,” ucap Yunita, Senin (16/3).

Secara rinci, kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) mencapai US$820 juta atau turun tipis 0,02 persen dari kisaran US$820 juta juta pada Januari 2020. Sementara ekspor nonmigas sebesar US$13,12 juta atau naik 2,38 persen dari US$12,82 miliar pada bulan lalu.

“Ini terjadi karena penurunan harga minyak mentah Indonesia, ICP di pasar dunia sebesar US$65,8 per barel dari sebelumnya US$56,61 per barel,” tuturnya.

Sedangkan peningkatan ekspor nonmigas terjadi karena ekspor industri pertanian naik 0,91 persen menjadi US$300 juta. “Peningkatan ekspor pertanian dipengaruhi biji kakao, mutiara hasil budaya, dan tanaman aromatik,” ujarnya.

Sementara nilai ekspor industri pengolahan naik 2,73 persen menjadi US$11,03 miliar. Nilai ekspor industri pertambangan naik 0,53 persen menjadi US$1,8 miliar.

“Peningkatan ekspor industri pengolahan karena logam dasar mulai, minyak kelapa sawit, barang tekstil lainnya, kendaraan bermotor, dan kimia dasar organik dari minyak. Sementara pertambangan karena bijih tembaga, batu kerikil, liknit, dan bahan mineral lainnya,” terangnya.

Secara total, kinerja ekspor non migas masih menopang sekitar 94,14 persen dari total ekspor Indonesia pada bulan lalu. “Dari sisi HS, ada peningkatan ekspor masker,” imbuhnya.

Berdasarkan negara tujuan ekspor, peningkatan nilai ekspor nonmigas terjadi ke Singapura US$281,5 juta, Malaysia US$89,7 juta, Ukraina US$46,6 juta, Swiss US$39,6 juta, dan Filipina US$3,5 juta. Penurunan ekspor nonmigas terjadi ke China minus US$245,5 juta, India minus US$128,5 juta, Taiwan minus US$58 juta, Jerman minus US$34,8 juta, dan Belanda minus US$26,1 juta.

“Penurunan ekspor ke China antara lain besi baja, tembaga, pulp, dan kayu. Sementara India turun di komoditas lemak dan minyak, pupuk, dan bahan kimia anorganik,” jelasnya.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Februari 2020 sebesar US$27,57 miliar. Kinerja ini meningkat 4,1 persen bila dibandingkan Januari-Februari 2019 sebesar US$26,48 miliar.

Khusus untuk ekspor nonmigas, naik 7,45 persen dari US$24,14 miliar menjadi US$25,94 miliar. Peningkatan ekspor nonmigas disumbang oleh bahan bakar mineral yang mencapai 13,79 persen dari total ekspor serta lemak dan minyak hewan nabati 12,24 persen.

Dari sisi impor, impor migas sebesar US$1,75 miliar atau merosot 12,05 persen dari US$1,99 miliar. Sementara impor nonmigas senilai US$9,85 miliar atau anjlok 19,77 persen dari US$12,28 miliar.

Penurunan impor nonmigas berasal dari barang konsumsi mencapai 39,91 persen menjadi US$880 juta, barang baku/penolong melorot 15,89 persen menjadi US$8,89 miliar, dan barang modal merosot 18,03 persen menjadi US$1,83 miliar. Secara struktur, impor didominasi oleh barang baku/penolong mencapai 76,63 persen dari total impor.

“Penurunan impor barang konsumsi, yaitu buah pir turun, non rubber toy, non sportwear, dan lainnya. Impor bahan baku turun, yaitu gas elpiji, butan, suku cadang handphone. Sementara impor barang modal turun di jaringan telepon seluler, laptop, dan lainnya,” jelasnya.

Berdasarkan kode HS, peningkatan impor berasal dari gula dan kembang gula, serelia, bijih, perak, dan abu logam, binatang hidup, dan bahan bakar mineral. Sementara komoditas yang turun impornya adalah mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, kendaraan dan bagiannya, plastik dan barang dari plastik, serta bahan kimia organik.

Berdasarkan negara asal impor, peningkatan nilai impor nonmigas terjadi ke Thailand US$196,8 juta, Jepang US$195,3 juta, Australia US$151,5 juta, Argentina US$148,4 juta, dan Selandia Baru US$25,7 juta.

“Peningkatan impor dari Thailand adalah komoditas gula dan kembang gula serta kendaraan dan bagiannya, ini naik ke Thailand. Impor Jepang antara lain mesin dan peralatan mekanik. Australia itu gula dan binatang hidup,” ungkapnya.

Penurunan impor nonmigas terjadi dari China minus US$1,95 miliar, Hong Kong minus US$116,5 juta, Korea Selatan minus US$113,7 juta, Singapura minus US$102,7 juta, dan Vietnam minus US$86,4 juta.

“Penurunan impor China terjadi antara lain mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanik, plastik dan barang dari plastik,” tuturnya.

Secara kumulatif, kinerja impor Januari-Februari 2020 sebesar US$25,87 miliar atau terkoreksi 5,21 persen dari Januari-Februari 2019 sebesar US$27,22 miliar. Khusus impor nonmigas, turun 7,68 persen dari US$23,98 miliar menjadi US$22,14 miliar.

“Share impor nonmigas terbesar pada Februari 2020 adalah mesin dan peralatan mekanis 19 persen serta mesin dan perlengkapannya 13,41 persen,” tutupnya.

SOURCE : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200316114603-532-483804/impor-anjlok-neraca-dagang-februari-surplus-us-234-miliar