KONTAN | Sabtu, 08 Mei 2021 / 15:46 WIB

 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2021 tercatat sebesar US$ 138,8 miliar, naik dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret  2021 sebesar US$ 137,1 miliar.

Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy, mengatakan tentunya kenaikan cadangan devisa kali ini selaras dengan kenaikan jumlah utang pemerintah pusat yang pada akhir kuartal I-2021 lalu pertumbuhannya mencapai di kisaran 24% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Di samping itu juga, kenaikan cadangan devisa ditopang peningkatan kinerja ekspor yang juga mengalami peningkatan di akhir kuartal I-2021. Hal ini tidak terlepas dari pertumbuhan ekspor yang juga mengalami pertumbuhan hingga 10%.

Setali tiga uang, Yusuf menilai seharusnya dengan kenaikan cadangan devisa per akhir April lalu nilai tukar rupiah juga mengalami kenaikan namun dengan isu sentimen perekonomian global khususnya Amerika Serikat (AS) di bulan April, mata uang Garuda justru lebih banyak mengalami pelemahan.

Setelah sempat berada pada level Rp 14.100 per dolar AS pada kisaran Maret, namun di akhir April rupiah melemah di kisaran Rp 14.300 per dollar AS.

Untuk prospek, cadangan devisa Yusuf mengatakan sampai dengan akhir tahun 2021 akan dipengaruhi oleh beragam hal. Pertama rencana penerbitan surat berharga negara (SBN) yang dilakukan pemerintah.

Dengan kebutuhan belanja yang masih relatif besar, untuk mendorong kebijakan fiskal ekspansif pemerintah, maka tentu  penerbitan SBN oleh pemerintah juga masih akan relatif lebih masif.

“Hal ini tentu berpotensi mendorong meningkatnya capital inflow yang pada muaranya berpeluang meningkatkan cadangan devisa,” kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Jumat (7/5).

Sementara, katalis positif dari ekspor lebih baik dibandingkan tahun lalu juga masih sangat besar, terutama dari negara tujuan ekspor seperti China yang telah mengalami pemulihan ekonomi di tahun ini.

“Jangan dilupakan juga bahwa, beberapa harga komoditas unggulan Indonesia juga mengalami perbaikan seperti misalnya batubara dan minyak sawit, sehingga bisa mendorong nilai ekspor Indonesia,” ujar Yusuf.

Adapun faktor tantangan ada pada pembayaran jatuh tempo utang pemerintah dan juga kondisi pasar keuangan yang belum relatif stabil akibat adanya sentimen second wave dari penyebaran Covid-19.

Alhasil, dengan berbagai sentimen positif dan negatif itu, Yusuf memperkirakan cadangan devisa hingga akhir tahun mencapai US$ 137 miliar hingga US$ 138 miliar.

SOURCE : https://nasional.kontan.co.id/news/cadangan-devisa-tembus-us-1388-miliar-ini-faktor-penopangnya?page=all