CNN Indonesia | Selasa, 06/04/2021 17:05 WIB

 

Jakarta, CNN Indonesia — Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara terkait menurunnya transaksi harian perdagangan bursa saham akhir-akhir ini.

Diketahui, rata-rata nilai transaksi pekan lalu tercatat Rp10,62 triliun, sedangkan pada perdagangan Selasa (5/4), nilai transaksi hanya sebesar Rp8,16 triliun.

Angka itu turun drastis dari catatan di awal tahun, yakni pada Januari saat transaksi harian tercatat berada di atas Rp20 triliun.

Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, hal itu dikarenakan pada Januari lalu terdapat January Effect yang biasanya mengangkat indeks saham di awal tahun.

Lalu, ditambah euforia program vaksinasi yang diproyeksikan bakal mendongkrak perekonomian.

“Setelah itu, euforia menyusut dan investor menunggu hasil nyata dalam hal data-data perbaikan ekonomi. Selain itu, emiten juga belum melaporkan laporan keuangan 2020, sehingga market masih wait dan see (melakukan aksi tunggu),” jelas Laksono kepada wartawan, Sealsa (6/4).

Laksono menyebut hal tersebut tak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan juga di bursa negara lainnya.

Di luar itu, ia menyebut hal lain yang membuat indeks ‘sepi’ adalah wacana pembatasan mudik selama libur Lebaran tahun ini yang ikut memberikan sentimen negatif terkait pemulihan ekonomi.

“Tentunya (penurunan transaksi) berpengaruh terhadap penurunan IHSG karena sikap wait and see tersebut,” beber dia.

Seperti diketahui, indeks selama beberapa pekan terakhir mengalami tekanan, bahkan menembus ke bawah level 6.000. Per Selasa (6/4) pagi, indeks sempat menyentuh level 5.944.

Beberapa sentimen yang membuat indeks terkoreksi adalah tingginya imbal hasil (yield) obligasi jangka panjang Amerika Serikat (AS) dan rencana BPJS Ketenagakerjaan mengurangi portofolio investasi di pasar saham.

SOURCE : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210406145029-92-626594/bei-respons-soal-perdagangan-bursa-saham-yang-sepi