CNN Indonesia | Kamis, 10/12/2020 16:29 WIB

 

Jakarta, CNN Indonesia — Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semula, laju ekonomi RI diperkirakan minus 1 persen pada proyeksi September 2020, kini direvisi turun jadi minus 2,2 persen proyeksi Desember 2020.

Ekonom ADB untuk Indonesia Emma Allen mengatakan penurunan proyeksi terjadi karena rendahnya aktivitas dan mobilitas masyarakat di tengah pandemi corona (covid-19). Hal ini imbas dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Tindakan pencegahan covid-19 telah menghambat pemulihan ekonomi. Ekonomi Indonesia diproyeksikan pulih lebih lambat dari publikasi (proyeksi) sebelumnya,” ucap Emma dalam konferensi pers virtual mengenai proyeksi ekonomi ADB periode Desember 2020, Kamis (10/12).

Selain karena pembatasan aktivitas dan mobilitas, Emma juga menilai penurunan proyeksi ekonomi Indonesia tercermin dari laju inflasi yang rendah pada tahun ini. Proyeksi ADB, inflasi Indonesia hanya berada di kisaran 2 persen pada 2020.

Proyeksi juga melemah karena pertumbuhan investasi menurun dari 2,7 persen pada kuartal II menjadi 2,1 persen pada kuartal III. Begitu juga investasi portofolio yang justru banyak keluar pada kuartal III, sementara aliran modal masuk menurun.

Kendati begitu, Indonesia tak sendirian. ADB juga menurunkan proyeksi laju ekonomi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Malaysia misalnya, diproyeksikan ekonominya minus 6 persen dari sebelumnya minus 5 persen. Begitu juga dengan Filipina, dari minus 7,3 persen menjadi 8,5 persen. Sementara, proyeksi ekonomi Singapura tak berubah, yakni minus 6,2 persen.

Sedangkan, ekonomi Thailand dan Vietnam membaik, yaitu Thailand dari minus 8 persen menjadi minus 7,8 persen, dan Vietnam dari 1,8 persen menjadi 2,3 persen.

Untuk tahun depan, ADB memperkirakan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 4,5 persen. Proyeksinya turun jauh dari sebelumnya 5,3 persen.

Indonesia senasib dengan Thailand dan Vietnam yang diramal memperoleh laju ekonomi yang lebih rendah pada tahun depan. Ramalan untuk ekonomi Thailand turun dari 4,5 persen menjadi 4,0 persen, sedangkan Vietnam merosot dari 6,3 persen menjadi 6,1 persen.

Sebaliknya, ekonomi Malaysia dan Singapura justru diramal lebih baik, dari semula 6,5 persen dan 4,5 persen menjadi 7 persen dan 5,1 persen. Sedangkan ekonomi Filipina diperkirakan tetap 6,5 persen.

Emma bilang penurunan proyeksi ekonomi Indonesia terjadi karena pemulihan belum cukup maksimal pada tahun ini. Namun, ekonomi Tanah Air bisa mendapat topangan dari perbaikan kinerja ekspor pada tahun depan, khususnya dari sektor manufaktur.

“Akan ada pemulihan ekonomi swasta yang membuat kepercayaan konsumen meningkat dan didukung program pemulihan ekonomi nasional. Kinerja investasi dan ekspor juga didukung penandatanganan kemitraan regional komprehensif (RCEP) belum lama ini. Ini sentimen baik yang akan mendukung pemulihan permintaan domestik,” terangnya.

Khusus untuk permintaan domestik, ADB melihat hal ini akan tercermin dari peningkatan inflasi. Proyeksinya, inflasi meningkat jadi 2,4 persen pada tahun depan.

SOURCE : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201210161627-532-580590/adb-revisi-turun-proyeksi-ekonomi-ri-jadi-minus-22-persen